Minggu, 04 April 2010
Tugas Bhs. Indonesia ( Resensi )
Judul buku : Jalan Tak Ada Ujung
Pengarang : Mochtar Lubis
Penerbit : Balai Pustaka, Jakarta 1952
Tebal Buku : 140 halaman
Buku Jalan Tak Ada Ujung karangan Mochtar Lubis ini, dapat dinamakan roman dan tidak salah kalau disebut juga novel. Dinamakan roman, karena tidak ada kesatuan tema dan tidak ada kepaduan pengupasan. Disebut novel, karena hanya menceritakan sebagian saja dari apa yang dialami pelaku sebagaimana yang biasa terdapat pada novel.
Kejadian yang diceritakan dalam buku ini berlangsung di Jakarta, kurang lebih sekitar tahun 1946 sampai 1957. Waktu itu, Indonesia terus-terusan dirundung kekacauan. Jepang menyerahkan Indonesia kepada sekutu, dan dalam tubuh sekutu terbonceng Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Jakarta sebagai ibu kota Indonesia, tentu mengalami kekacauan lebih istimewa.
Dalam situasi yang serba kacau ini, seorang guru bernama Guru Isa senantiasa mengalami ketakutan. Untuk menyembunyikan rasa takutnya itu, Guru Isa melakukan perbuatan-perbuatan yang dinilai orang sebagai perbuatan berani dan bersifat pahlawan.
Hazil, sahabat Guru Isa, tampak sebagai seorang pemberani dan ikut membantu perjuangan. Hazil berjuang demi cita-cita pribadi. Guru Isa berjuang karena ketakutannya, namun batinnya sangat menolak. Guru Isa takut dituduh tidak cinta tanah air dan takut dituduh mata-mata musuh.
Ketika Guru Isa dan Hazil tertangkap, mereka mendapat siksaan. Hazil yang selama ini dikagumi Guru Isa begitu mudah menyerah. Beberapa kali tamparan saja membuat Hazil mengakui perbuatannya dan mengkhianati teman seperjuangannya. Lain halnya dengan Guru Isa, yang selama ini berbuat karena ketakutannya, ternyata bertahan dan tidak mengaku. Malah ketika akan disiksa lagi, rasa takutnya menjadi hilang. Rupanya kekejaman yang luar biasa dari pihak musuh bukan membuatnya jadi lumpuh, malah sebaliknya, jiwanya bangkit, rasa beraninya berkobar. Dengan hilangnya rasa takut itu, sembuh pula penyakitnya, yaitu birahi kelaki-lakiannya pun bangkit. Betapa bahagia Guru Isa sebab ketika rasa takutnya selalu menghantuinya, birahi laki-lakinya lumpuh.
Jika dikaitkan dengan judul buku ini, ucapan Hazil di akhir cerita tampaknya merupakan tema kuat dari buku ini. ”Bagiku hidup adalah tujuan, dan bukan alat untuk mencapai tujuan. Kebahagiaan manusia adalah dalam perhubungan orang-seorang yang sempurna dan harmonis dengan manusia lain. Negara hanyalah alat. Dan individu tidak boleh diletakkan di bawah negara. Ini musik hidup. Ini perjuanganku. Ini jalan tak ada ujung yang kutempuh. Ini revolusi yang kita mulai. Revolusi hanya alat mencapai kemerdekaan. Dan kemerdekaan juga hanya alat memperkaya kebahagiaan dan kemuliaan kehidupan manusia-manusia”.
Pengarang, melalui buku ini, hendak menelanjangi Hazil, lambang kebanyakan pejuang pada waktu itu berjuang demi cita-cita pribadi. Sekali dua kali tampar, langsung menyerah. Tujuan perjuangannya adalah hidupnya sendiri, kebahagian sendiri, dan kepentingan diri sendiri. Akan tetapi, Guru Isa yang berjuang karena rasa takutnya itu, tampil menjadi seorang pahlawan.
Mungkin orang menilai perubahan jiwa Guru Isa yang menjadi pemberani, sesuatu yang dibuat-buat dan membuat nilai cerita ini rendah. Akan tetapi, jika dikaji dari sudut psikoloagis, perubahan tersebut adalah hal yang wajar dan dapat diterima akal.
Gaya bahasa Mochtar Lubis dalam buku ini sama seperti gaya sastrawan angkatan 45 pada umumnya. Di sana-sini tampak perbandingan baru dan orisinil. Bukan gaya bahasa klise. Jalan cerita cukup lancar. Apalagi karena dibumbui dengan seks, novel ini mempunyai daya tarik tersendiri. Peristiwa demi peristiwa mengalir menurut menuruti waktu.
Sumber : Kasanah Umi, S.Pd., Bahasa dan Satra Indonesia, penerbit Graha Pustaka, Jakarta.
Permalink 0
Read more>>
Kamis, 04 Maret 2010
PEMANASAN GLOBAL
Nama : Duwi Nopiyanti
NPM : 20208395
Kelas : 2 EB 03
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Untuk memenuhi salah satu tugas kuliah, maka penyusun membuat makalah ini dengan tema global warming. Makalah ini penyusun beri judul DAMPAK GLOBAL WARMING.
Alasan mengapa penyusun memilih global warming dalam tema makalah ini, karena penyusun ingin mengetahui lebih dalam tentang pemanasan global yang saat ini terjadi di bumi kita. Dalam makalah ini, penyusun membahas mengenai pengertian pemanasan global, penyebab pemanasan global, dampak pemanasan global, cara untuk mengurangi pemanasan global.
Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global termasuk
1.2 Identifikasi Masalah
Banyak hal yang dapat menyebabkan timbulnya global warming, antara lain efek rumah kaca, efek umpan balik, dan variasi matahari.
1.3 Pembatasan Masalah
Dalam makalah ini penyusun membatasi permasalahan yang akan dibahas, yaitu tentang Dampak Global Warming.
Penyusun menganggap ini sangat menarik. Adapun tujuan dilakukannya pembatasan masalah ini agar dalam penyampian makalah ini tidak terjadi selang pendapat.
Dalam makalah ini penyusun membatasi permasalahan yang akan dipertanyakan, yaitu :
1. Mengapa saat ini suhu di bumi semakin panas ?
2. Apa saja yang menyebabkan pemanasan global
3. Bagaimana cara mengurangi pemanasan global ?
1.4 Tujuan
1.4.1 Tujuan Umum
1. Memperkaya wawasan mengenai lingkungan alam.
2. Lebih cinta terhadap lingkungan alam sekitar.
1.4.2 Tujuan Khusus
1. Sebagai salah satu tugas kuliah.
2. Mengetahui penyebab pemanasan global.
1.5 Manfaat
1. Mengetahui apa itu global warming.
2. Mengetahui penyebab global warming.
3. Mengetahui dampak dari global warming.
4. Mengetahui bagaimana cara mengurangi global warming.
BAB II
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Global Warming
Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global – termasuk Indonesia – yang terjadi pada kisaran 1,5–40 Celcius pada akhir abad 21. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
3.2 Penyebab Global Warming
Global Warming disebabkan oleh beberapa hal, antara lain yaitu :
3.2.1 Efek Rumah Kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F)dari temperaturnya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.
3.2.2 Efek Umpan Balik
Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).[3] Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer. Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es.[4] Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.
3.2.3 Variasi Matahari
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini.
3.3 Dampak Global Warming
Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia. Terdapat beberapa dampak yang diakibatkan oleh global warming atau pemanasan global yaitu :
3.3.1 Iklim Mulai Tidak Stabil
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini)[29]. Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
3.3.2 Peningkatan Permukaan Laut
Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai.
3.3.3 Gangguan Ekologis
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah
3.3.4 Dampak Sosial dan Politik
Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.
Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Dengan adamya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (eq Aedes Agipty), Virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu yang target nya adala organisme tersebut.
3.4 Cara Untuk Mengurangi Global Warming
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah pemanasan global dimasa depan antara lain yaitu :
1. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut.
2. Pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi.
3. Memperlambat bertambahnya gas rumah kaca dengan cara pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
4. Tidak memakai alat-alat rumah tangga yang mengandung CFC yang dapat merusak lapisan ozon.
5. Penanaman hutan kembali, Indonesia berpotensi mengurangi suhu bumi secara global sebesar rata-rata 0,4 derajat celsius jika berhasil melakukan reforestasi (penghutanan kembali, Red) dalam jangka waktu 100 tahun ke depan.
BAB III
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global termasuk Indonesia yang terjadi pada kisaran 1,5–40 Celcius pada akhir abad 21. Penyebab global warming yaitu efek rumah kaca, efek umpan balik, dan variasi matahari. Dampak dari global warming itu sendiri yaitu iklim mulai tidak stabil, peningkatan permukaan laut, gangguan ekologis, serta gangguan sosial dan politik. Salah satu cara untuk mengurangi global warming adalah dengan memperlambat bertambahnya gas rumah kaca.
4.2 Saran
· Lebih menjaga lingkungan sekitar.
· Tidak melakukan penebangan hutan sembarangan.
· Tidak memakai alat-alat rumah tangga yang mengandung CFC yang dapat merusak lapisan ozon.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global
file:///D:/global%20warming%20%C2%AB%20hermawan%27s%20Blog.htm
file:///D:/HUTAN%20INDONESIA%20BISA%20TURUNKAN%20SUHU%20BUMI%20%C2%AB%20Jadilah%20Sahabat%20Bumi.htm
Label: Tugas makalah Bahasa Indonesia ( NPM Ganjil )
Permalink 0
Read more>>
Senin, 04 Januari 2010
Arti, Pengertian, Definisi, Fungsi dan Peranan Koperasi / Koprasi Indonesia dan Dunia - Ilmu Ekonomi Koperasi / Ekop
Berikut di bawah ini adalah landasan koperasi Indonesia yang melandasi aktifitas koprasi di Indonesia.
- Landasan Idiil = Pancasila
- Landasan Mental = Setia kawan dan kesadaran diri sendiri
- Landasan Struktural dan gerak = UUD 1945 Pasal 33 Ayat 1
A. Fungsi Koperasi / Koprasi
1. Sebagai urat nadi kegiatan perekonomian Indonesia
2. Sebagai upaya mendemokrasikan sosial ekonomi Indonesia
3. Untuk meningkatkan kesejahteraan warga negara Indonesia
4. Memperkokoh perekonomian rakyat Indonesia dengan jalan pembinaan koperasi
B. Peran dan Tugas Koperasi / Koprasi
1. Meningkatkan tarah hidup sederhana masyarakat Indonesia
2. Mengembangkan demokrasi ekonomi di Indonesia
3. Mewujudkan pendapatan masyarakat yang adil dan merata dengan cara menyatukan, membina, dan mengembangkan setiap potensi yang ada
Permalink 0
Read more>>
Selasa, 29 Desember 2009
RESUME EKONOMI KOPERASI BAB 7 & BAB 8
BAB 7
JENIS –JENIS DAN BENTUK KOPERASI
Jenis Koperasi (PP 60 Tahun 1959)
a. Koperasi Desa
b. Koperasi Pertanian
c. Koperasi Peternakan
d. Koperasi Perikanan
e. Koperasi Kerajinan/Industri
f. Koperasi Simpan Pinjam
&nb sp; g. Koperasi Konsumsi
Jenis Koperasi menurut Teori Klasik terdapat 3 jenis Koperasi:
a. Koperasi pemakaian
b. Koperasi penghasil atau Koperasi
produksi
c.. c. Koperasi Simpan Pinjam
Ketentuan Penjenisan Koperasi Sesuai &am p;nb sp; Undang – Undang No. 12 /67 tentang Pokok - pokok Perkoperasian (pasal 17)
- Penjenisan Koperasi didasarkan pada kebutuhan dari dan untuk efisiensi suatu
golongan dalam masyarakat yang homogen karena kesamaan aktivitas /kepentingan
ekonominya guna mencapai tujuan bersama anggota-anggotanya.
- Untuk maksud efisiensi dan ketertiban, guna kepetingan dan perkembangan Koperasi
Indonesia, di tiap daerah kerja hanya terdapat satu Koperasi yang sejenis dan
setingkat.
BENTUK KOPERASI (PP No. 60 / 1959)
a. Koperasi Primer
b. Koperasi Pusat
c. Koperasi Gabungan
d. Koperasi Induk
BENTUK KOPERASI YANG DISESUAIKAN DENGAN WILAYAH ADMINISTRASI PEMERINTAHAN(Sesuai PP 60 Tahun 1959)
- Di tiap desa ditumbuhkan Koperasi Desa
- Di tiap Daerah Tingkat II ditumbuhkan Pusat Koperasi
- Di tiap Daerah Tingkat I ditumbuhkan Gabungan Koperasi
- Di Ibu Kota ditumbuhkan Induk Koperasi
K OPERASI PRIMER DAN KOPERASI SEKUNDER
- Koperasi Primer merupakan Koperasi yang anggota-anggotanya terdiri dari orang – orang.
- Koperasi Sekunder merupakan Koperasi yang anggota-anggotanya adalah organisasi koperasi .
BAB 8
PERMODALAN KOPERASI
ARTI MODAL BAGI KOPERASI
- Modal merupakan sejumlah dana yang akan digunakan untuk melaksanakan usaha
– usaha Koperasi.
- Modal jangka panjang
- Modal jangka pendek
- Koperasi harus mempunyai rencana pembelanjaan yang konsisten dengan azas-azas
- Koperasi dengan memperhatikan perundang-undangan yang berlaku dan ketentuan administrasi.
SUMBER-SUMBER MODAL KOPERASI (UU NO. 12/1967)
- Simpanan Pokok adalah sejumlah uang yang diwajibkan kepada anggota untuk
diserahkan kepada Koperasi pada waktu seseorang masuk menjadi anggota Koperasi
tersebut dan jumlahnya sama untuk semua anggota
- Simpanan Wajib adalah simpanan tertentu yang diwajibkan kepada anggota yang
membayarnya kepada Koperasi pada waktu-waktu tertentu.
- Simpanan Sukarela adalah simpanan anggota atas dasar sukarela atau berdasarkan
perjanjian-perjanjian atau peraturan –peraturan khusus.
SUMBER-SUMBER MODAL KOPERASI (UU No. 25/1992)
- Modal sendiri (equity capital) , bersumber dari simpanan pokok anggota, simpanan
wajib, dana cadangan, dan donasi/hibah.
- Modal pinjaman ( debt capital), bersumber dari anggota, koperasi lainnya, bank atau
lembaga keuangan lainnya, penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya, serta
sumber lain yang sah.
KOPERASI
- Pengertian dana cadangan menurut UU No. 25/1992, adalah sejumlah uang yang
diperoleh dari penyisihan sisa hasil usaha yang dimasukkan untuk memupuk modal
sendiri dan untuk menutup kerugian koperasi bila diperlukan.
- Sesuai Anggaran Dasar yang menunjuk pada UU No. 12/1967 menentukan bahwa
25 % dari SHU yang diperoleh dari usaha anggota disisihkan untuk Cadangan,
sedangkan SHU yang berasal bukan dari usaha anggota sebesar 60 % disisihkan
untuk Cadangan.
- Menurut UU No. 25/1992, SHU yang diusahakan oleh anggota dan yang diusahakan
oleh bukan anggota, ditentukan 30 % dari SHU tersebut disisihkan untuk Cadangan.
Distribusi Cadangan Koperasi antara lain
dipergunakan untuk:
- Memenuhi kewajiban tertentu
- Meningkatkan jumlah operating capital koperasi
- Sebagai jaminan untuk kemungkinan – kemungkinan rugi di kemudian hari
- Perluasan usaha
Permalink 0
Read more>>
